Ketika malam semakin larut, satu per satu penumpang mulai terlelap. Tidak terkecuali keluarga yang sedang kami jadikan target. Setelah yakin semua sudah tertidur, kami mulai mengendap-endap mendekati sasaran. Dalam hitungan detik kaleng biskuit itu berpindah tangan. Biskuit itu kami curi. Di kegelapan, di dekat cerobong asap, biskuit itu kami lahap dengan penuh selera. Sesekali diselingi tawa. Kami menertawakan ‘kebodohan’ pemilik biskuit. Bodoh karena tidak menyimpan dengan baik ‘barang berharga’ tersebut.
Malam itu juga isi kaleng ludes tanpa bekas. Pindah ke perut kami. Nikmatnya luar biasa. Pelayaran sudah memasuki hari kedelapan. Makanan jatah kapal mulai sulit masuk ke tenggorokan. Uang sudah habis. Kami mulai kelaparan. Kami membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar nasi dan seonggok kangkung rebus tanpa garam
yang menjadi menu harian selama pelayaran.
Saya sedang dalam
perjalanan dari Jayapura menuju Jakarta.
Beberapa minggu setelah ayah meninggal, pertengahan 1978, saya terpaksa meninggalkan
Papua. Sekolah terancam putus karena tidak ada biaya. Kakak perempuan saya,
yang tinggal di Jakarta,
menawari bantuan biaya sekolah dan tempat tinggal. Maka berangkatlah saya
menuju Ibu Kota.
Kapal PELNI yang
saya tumpangi sebenarnya bukan khusus untuk penumpang. Kapal itu hanya
menyediakan sejumlah kamar, sisanya geladak terbuka yang di bagian bawahnya
berisi barang-barang angkutan. Mulai dari beras, gula, kayu, solar, sampai
semen. Jumlah kamar yang terbatas membuat sebagian penumpang harus rela tidur
di atas geladak beralaskan terpal. Jika kapal berlayar, bagian atas geladak itu
ditutupi terpal untuk melindungi penumpang dari panas dan hujan. Setiap singgah
di pelabuhan, muatan dibongkar. Penumpang yang tidur di atas geladak silakan
menyingkir sejenak, sampai urusan bongkar-muat selesai. Namun setelah palka
ditutup, biasanya terjadi perebutan untuk mengkapling- kapling wilayah ‘jajahan’
di atas dek itu. Biasanya terjadi adu mulut. Siapa kuat dia menang.
Mereka yang sudah
berhasil mendapatkan wilayah kekuaaan, biasanya mematok daerah kekuasaannya itu
dengan ‘pagar’ berupa barang-barang bawaan mereka. Koper, tikar, bantal, kursi
lipat, rantang, panci, ember, dan gayung dijadikan ‘pagar’ . Pokoknya barang
apa saja yang bisa digunakan akan dipakai sebagai pembatas teritorial.
Persoalannya, di
setiap pelabuhan selalu ada penumpang yang naik. Penumpang baru biasanya tidak
mau tahu soal batas teritorial ini.. Mereka mencoba membuat batasan baru. Maka
di sinilah sumber percekcokan. . Adegan yang sama akan berulang-ulang di setiap
pelabuhan. Begitu kegiatan bongkar-muat selesai, penumpang berebut menggelar
tikar dan mematok batas teritorinya. Semakin lama batas teritorial ini semakin
kecil. Sebab kalau penumpang baru yang naik itu ‘orang kuat’, misalnya anggota TNI,
Polisi, atau keluarga Anak Buah Kapal (ABK), biasanya terjadi kompromi, yakni
berbagi teritori. Sebenarnya kakak ipar saya yang bekerja di PELNI menitipkan
saya pada sejawatnya di kapal itu. Tetapi karena merasa tidak enak hati tinggal
di kamarnya yang sempit, dan mengganggu privasi sang sejawat, saya memilih
tidur di dek. Saya bergabung dengan beberapa pemuda yang juga dalam perjalanan
menuju Jakarta.
Jayapura ke Jakarta memakan waktu lima belas hari. Dari
Jayapura biasanya singgah di Biak – Sorong – Ambon - Makassar – Surabaya – baru tiba di Jakarta.
Biasanya, di
antara penumpang ada yang tanpa tiket. “Penumpang gelap” ini biasanya dengan
segala cara menyelundup naik ke kapal. Lalu setelah di atas bagaimana? Tidak
usah khawatir. Cukup ‘main mata’ dengan membayar ‘uang makan’ ke ABK, semua
urusan beres. Tentu lebih murah ketimbang membeli tiket. Pokoknya tahu sama
tahu. ABK toh manusia juga.
Saya termasuk
penumpang tanpa tiket. Penumpang titipan. Tidak usah bayar tiket. Tetapi selama
pelayaran, urusan makan ditanggung sendiri. Maka cara yang paling murah adalah
membayar langsung ke koki di dapur. Sudah bukan rahasia penumpang tanpa tiket,
agar mendapat jatah makan, membayar langsung ke koki. Biasanya bayar di muka
sesuai jarak perjalanan. Menunya sama dengan penumpang yang bertiket. Cuma
memang harus sabar karena pada jam pembagian makan, penumpang bertiket dulu
yang dilayani. Mereka yang membayar ke koki harus menunggu sampai semua
penumpang terlayani. Setelah itu baru koki akan membagikan ‘makanan sisa’
kepada penumpang khusus ini. Asyiknya, seringkali jatah untuk penumpang khusus
ini lebih banyak dan kadang dapat bonus daging rebus atau telor ceplok.
Menu harian hanya
sepiring nasi, kangkung rebus yang rasanya aneh karena dimasak secara massal,
plus sepotong kecil telur dadar. Itu-itu saja dari hari ke hari. Lima hari pertama,
makanan itu masih bisa masuk ke tenggorokan. Lebih dari itu, pandai-pandailah
menggunakan imajinasi. Jika tidak, silakan kelaparan.
Bagi mereka yang
punya cukup uang, bisa memilih makan di warung di bagian perut kapal. Sejumlah
pedagang asal Makassar dan Padang rupanya jeli melihat peluang bisnis. Penumpang yang sudah tidak tahan menyantap
menu kangkung rebus dan telur dadar tadi adalah sasaran mereka. Terapung-apung
selama belasan hari bisa membuat orang frustasi. Apalagi jika makanan jatah
mulai membuat perut mual sebelum menelannya. Maka pikiran jahat biasanya mulai
menggoda. Godaan yang sering tak tertahankan.
Itulah yang
terjadi pada saya dan teman-teman. Sekelompok pemuda dengan uang pas-pasan.
Untuk mengisi waktu biasanya kami bermain kartu, bernyanyi diiringi gitar, atau
cuma ngobrol sampai larut malam.
Bermula pada
suatu malam, ketika perut mulai keroncongan, seorang di antara kami mulai iseng
mencuri makanan milik penumpang lain. Tidak sulit karena makanan itu biasanya
cuma diletakkan sebagai pembatas teritori tadi. Sasaran yang empuk dan sangat
mudah.
Dari keberhasilan
satu ke sukses lain membuat kami jadi terbiasa. Setiap malam satu per satu
makanan penumpang lain kami curi. Sasaran kami terutama mereka yang baru naik,
yang belum mengenal situasi. Selain itu, penumpang baru biasanya membawa banyak
makanan persediaan untuk perjalanan.
Suatu hari, saat
kapal singgah di Sorong, naik satu keluarga terdiri dari seorang kakek, anak,
menantu, dan dua cucunya. Mereka keluarga transmigran yang hendak pulang ke
Jawa. Mata kami berbinar-binar melihat barang bawaan mereka. Teruama sebuah
kaleng biskuit Khong Guan yang mereka tenteng. Dari fisiknya, kami segera tahu
itu kaleng baru, yang belum dibuka. Artinya, sebentar lagi kami akan berpesta
biskuit.
Saat yang
ditunggu tiba. Malam hari, ketika mereka terlelap, kami mulai beraksi. Dengan
mudah kaleng biskuit itu berpindah tangan. Di atas anjungan, di kegelapan, kami
berpesta pora. Dalam hitungan menit isi biskuit tandas. Kalengnya kami lempar
ke laut. Setelah itu kami tertidur pulas. Pagi hari terjadi keributan. Geger.
Keluarga tersebut sibuk bertanya ke sana ke mari perihal biskuit mereka. Tidak seorang pun yang ditanya bisa memberi
info. Kalaupun ada yang tahu, mereka tentu tidak mau mencari-cari perkara dan
harus berurusan dengan sekelompok anak muda yang sedang kelaparan.
Setelah lelah
mencari dan bertanya, keluarga itu akhirnya menyerah. Pasrah. Wajah mereka
tampak masgul. Begitu memelas. Sang kakek bahkan menangis. Pada saat itu saya
baru tersadar betapa biskuit itu punya arti luar biasa bagi keluarga itu. Mata
saya juga seakan baru terbuka. Melihat penampilan mereka, dari pakaian dan
koper yang dibawa, jelas kondisi ekonomi mereka jauh dari sejahterah..
Dari hasil
menguping, ternyata mereka transmigran asal Trenggalek, Jawa Timur, yang hendak
pulang kampung untuk Lebaran. Dengan segenap kemampuan mereka mengumpulkan uang
untuk membeli tiket ‘kelas dek’. Sementara sang kakek menguras uang tabungannya
demi sekaleng biskuit merek Khong Guan.
Cucu sang kakek
setiap hari merengek meminta agar diperkenankan membuka kaleng dan menikmati
biskuit di dalamnya. Namun sang kakek berusaha membujuk agar kedua cucunya
bersabar. Jika tiba waktunya tentu diperbolehkan menikmati biskuit itu
sepuasnya. Waktu yang dijanjikan itu adalah saat Lebaran nanti. Selain Lebaran
memang hari yang istimewa, rupanya keluarga tersebut juga ingin ‘memamerkan’
lebih dulu biskuit tersebut kepada tetangga mereka di kampung. Keluarga itu
ingin menunjukkan kepada warga desa betapa mereka sudah ‘berhasil’ di tanah
rantau. Simbol keberhasilan itu mereka wujudkan dalam bentuk sekaleng biskuit
Khong Guan. Namun simbol kebanggaan itu telah raib dicuri sekelompok pemuda
iseng.
Maka sepanjang
sisa pelayaran kami menyaksikan wajah-wajah yang bersedih. Terutama wajah sang
petani tua. Muncul penyesalan. Tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak ada
keberanian untuk mengaku di hadapan mereka bahwa kamilah yang mencuri biskuit
itu.. Sementara kami juga tidak memiliki kemampuan untuk mengganti biskuit yang
dicuri.
Kami sungguh
menyesal. Kegembiraan kami menyantap biskuit curian malam itu ternyata
beralaskan penderitaan sebuah keluarga yang kehilangan kebanggaan dan mimpi.
Mimpi berlebaran dengan sekaleng biskuit yang dibeli dengan uang tabungan
seorang petani tua. (dikutip dari www.kickandy. com/andy’scorner)